Sabtu, 16 Mei 2020

Apa yang kau Takutkan?




Oleh: Surya Anta


Pada Bintang Kejora
Bendara Tauhid
Palu arit
Dan lambang LGBT

Buku-buku kiri kau larang dan berangus
PKI dan OPM jadi hantu gentayangan
Sebagaimana GAM dan Fretelin dulu
Hingga LGBT jadi penyakit menular

Mengapa kau takut pada Bintang Kejora?
Belanda hargai sebagai Land Vlag
Gus Dur beri ijin kibar di bawah Merah Putih
Hatta tak pernah setuju aneksasi Papua

Kata merdeka jadi momok
Padahal orang Papua kenal kosakata merdeka
Sebab kau tindas terlalu lama

Mengapa begitu cemas pada tuntutan Hak Menentukan Nasib Sendiri?
Lalu buat apa ratifikasi hukum internasional itu?
Kau tuduh teriak Referendum sebagai Separatisme
Meski kita dukung Palestina tentukan nasib sendiri
Tapi bagi aktivis Papua, Separatis!
Kau cap kami pengkhianat
Kau lupa negeri ini merdeka sebab ada solidaritas dari mana pun
Pula orang-orang dari negeri Belanda

Kau sebut semua ini untuk kesatuan dan keamanan negara
Keamanan siapa?
Hidup kami tak pernah aman dari tirani
Kesatuan siapa atau kesatuan yang mana?
Untuk persatuan atau Persatean?

Mengapa cibir orang Papua?
Mereka bisa hidup dengan Kasbi, Petatas, Sagu, Wam, dan Ikan asar
Tapi penguasa dan pengusaha tak sanggup hidup tanpa kuasa, bisnis dan laba

Mengapa kau rasis?
Pada orang-orang hitam rambut keriting
Dan mata sipit kulit kuning
Terancamkah pada mereka?
Atau itu cara untuk tunduk dan taklukan mereka?

Mengapa begitu takut?
Akh… Aku tau
Kau takut kotak Pandora terbuka
Para Jenderal dan Penguasa masuk penjara
Segala kejahatan kemanusiaan terkuak
Tak hanya Papua
Ambon dan Poso
Aceh
Timor Leste
Penculikan aktivis dan kerusuhan ’98
Hingga pembunuhan Munir

Kau takut mereka berbaris dan kepalkan tangan bersama!
Hingga kau tak bisa lagi keruk sumber daya

Akh… Kau ciptakan ancaman, ketakutan dan teror
Kau lah teror itu!
Bukan kami!

Rutan Salemba, 25/01/2020

“Surya Anta”
Pejuang HAM  Pendukung FWP.

Sumber: institutreforming.blogspot.com


Label: , ,

Selasa, 24 Desember 2019

Kepada Kawan Hendrik Lokbere





Oleh: Oskar H.  Gie.


Kawan,  NATAL sebentar tiba
Kami menyayangimu
dan kau t'lah siap,
"Siap dalam ketiadaan yang abadi"

Kawan,  NATAL sebentar tiba
Kami merinduhkanmu
Tapi kau menolak lupa
Sebab sakit ini kuat dan menyesakan

Kini kami melihatmu dalam damai
tidur berselimut mantel putih,
Lukamu 'kan hilang
dan jiwamu tak lagi terlihat oleh waktu

Ah sayang,  begitu jauh....

Kami ingin kau tauh bahwa
"Kehidupan disini membutuhkanmu,
Apalagi perjuangan Pembebasan"
(Bagi Rakyat Nduga dan Bangsa Papua)

Selamat Jalan Kawan Hendrik Lokbere
Tidurlah dalam damai (RIP)  😢🙏

~

Label:

Sabtu, 07 Desember 2019

PUISI TRAGEDI PANIAI BERDARAH

Foto fb




Enarotali....
Lima Tahun Sudah
Hukum di hukum di tanahmu
Kebenaran membisu
Suara keadilan bersenandung pilu
Tancapan tima panas di dadamu
Pangkat mereka didada

Oh Enarotali....
Racikan kata-katamu ungkap  pelaku
Tenggelam di Danau Paniai
Pembungkaman padamkan api kebenaranmu
Di Bumii Wagadey

Enarotaliku Sayang....
Ketahuilah

Bila Langit tak terbatas
Pembungkaman tak abadi

Bila sehabis hujan ada pelangi
Kebenaran dan keadilan segera menyingsing

SAMBUTLAH FAJAR YANG MEREKAH
Enarotaliku.....
___

TRAGEDI PANIAI BERDARAH
(08 Desember 2014 - 08 Desember 2019)

Jayapura,05 Desember 2018
|| Tegey

#westpapuaquotes
#westpapua #5tahun #paniaiberdarah #paniai #enarotali #8desember2014 #8desember2019 #pelanggaranham #pelanggaranhamberat #kebenaranmembisu #usuttuntas
#kamimelawanlupa #melawanlupa

Label:

Minggu, 17 November 2019

HADIAH JERUJI





Oleh: YUlminus kum


Tuan…
Kami datang membawa narasi,
kalian hadiahi kami jeruji.
Raga  boleh terpenjara,
pikiran, akan terus membara.
Kami Melawan..!

Teruslah menjarah,
kami tak lelah.
Meski darah mengalir,
semangat kami, tak akan mengecil.

Tuan…
Tinta pena, ku ganti dengan darah,
menulis, tentang kalian yang menjarah.
Di atas pasir besi ini,
pena rakyat, tak akan berhenti.

Berbahagialah sayang,
ingat, kami akan terus menentang.
Untuk menuntut keadilan,
dirumah mereka, para tiran.

Tuan…
Mereka rusaki kantor camat,
bukan tanpa alasan.
Saat suara tak lagi didengar, penguasa sibuk pamer opera,
batu-batu mengambil alih peran.

Tuan..
Ada lingkungan yang mesti di jaga
Sebab anak cucu mereka berhak terjaga,
dari kemarahan alam yang telah lama diperkosa.

West Papua _17 november 2019

Label:

Kamis, 26 September 2019

☆ Adakah keadilan ? ☆






Oleh : Yesaya g.

Kehidupan ini yang terus ku alami
Papua penuh dengan isue, tidak mendidik.
Mengiring isi setiap bumi, menguling setiap petinggi.

Lihat sajalah apa yang beredar di layar kaca,
Gumuran darah meredar menimbulkan duka lara.
Saksikanlah tanpa kedip
Betapa sadisnya hidup
Di tengah tegah asap yang gelap
Di tengah tengah api yang bernyala nyala,
Bahkan, Di kampus kampus yang ada

Ku berlari lari..

Meminta keadilan di tegakan di muka bumi
Meminta demokrasi  hadir hari ini
Tanpa kompromi logis
Senjata berkuasa jaya
Hoax beredar tak mendidik
Para Aktivist di culik,  petinggi di ancam.

Ku bertanya..
seketika peluru menembus kulit
Alat negara di gunakan seakan binatang,
Keamanan pun berkelebiahan.
Dan aku pun di salahkan

Apakah tuhan adil kah ?

Semoga dunia ini melek
Memandang hidup ini
Yang diporak-porandakan
Kemanusiaan yang terluka
Dan lagi berduka

Bilur nanah yang meleleh
Di tenggah tenggah tetesan air mata
Cacian yang tak beradab
Pelaku rasis yang belum di usut tuntas
Bunyi peluru sini sana
Peluru yang menembus kulit
Nyawa ku,"papua" hanya seharga permen
Papua darurat kemanusiaan.

#jalanmenagis

Label:

Sabtu, 21 September 2019

Perempuan pemimpin




Seperti mereka yang ada di setiap lema
Aku juga ada di samping itu,
Memperjuangkan sebagai hak ku,
Di situlah ku tahu apa arti hidup, apalagi arti surga

Memperjuangkan apa arti perjuagan
Tetap tersenyum di kala haus, lapar, apa lagi di siksa, karena  itulah hidup si kaum yang di angap moyet.

Gadis yang di jadikan tradisi
Gadis tidak manusiawi
Inilah hari,
Kami memimpin bangsa ini
Keluar dari rantai budak ini
Apa arti hidup ini,

Jika perempuan di anggap lemah.
Perempuan pula saatnya memimpin
Keluar dari patriarki, kesetaraan akan terwujud.

#saatnyaperempuanmemimpin.

                    ☆by. Muno☆




Label:

Jumat, 29 Maret 2019

Tak sanggup lagi




Sudah cukup sudah,  ini sudah yang ke
Berapa kali, dari beberapa ribuh kali.
Bosan dengan perbudakan ini,  bosan dengan kelakuan ini, bosan pulah hidup begini.

Senyuman di balik luka.
Sayang anak dalam surga,
yang meminta minta seakan tak punya harta.
Sudah banyak cerita,
pastinya banyak kisah.
Tagisan kini seakan tak terhenti
Seyuman yang terus menghiasi.
Senyuman anak tak berdosa.
Bapa ini hidup kah?
Iya nak ini hidup, ini hidup yang lagi di hidupi.
di mana sekolah yang dulu,
kenapa tidak punya meja
Kenapa tidak punya kursi, kenapa di bawa tenda/terpal.

Ini sekolah kah ?... Ahh anak jalani saja
Bapa juga takut militer ini,
Anak jangan banyak komentar,
Bapa takut di ancam lagi.

Anak berdiam diri
Seakan tak ada persoalan yang terjadi
Sayang anak pengunggsian.
Sayang anak trauma
Sayang anak surga.
Gubernur papua kemana ?
Bupati kemana ?
Mrp kemana ?
Dpr kemana?
Kenapa mereka diam, kenapa mereka tenang
Apakah mereka takut? Ataukah mereka pembunuh?
Sudah cukup penindasan ini
Penindasan yang tak ada habisnya
Yang kini Kian membisu,
diam melulu.

Ingin hidup seribuh tahun lagi,
Hidup keadilan, kenyamanan di negeri ini.
Negeri yang ku damba negeri yang ku nanti.

Pulau sula no27
01/03/2019

#Penggungsian
#Savenduga

Label:

Suara kami terbungkam, Operasi masih berjalan, anak dengarkan rimbah ini



Doc. Editor mambruk



Anak kami masih di hutan
rimba lebat itu.
Kami masih dalam hutan buah merah, kami masih dalam rimbah kelapa hutan.

Saat pertama kali pengoperasian yang di lakukan Tni porli di nduga bulan desember itu sampai saat ini kami masih dalam hutan.

Jangan pernah percaya ke pada semua, kepada pejabat pejabat, media media karena kami masih tersebunyi di balik gunung2 itu.
Rumah rumah kami itu sudah tidak tau bagai mana keadaannya lagi karena saat operasi itu kami semua lari.
Kami meninggalkan semua,  meninggalkan rumah, arta berharga, tanaman, hewan peliaraan dan bayak sekali yang sempat kami tinggalkan.

Tidak tau untuk mama mama, bapa bapa, adik2 dan kaka yang  lain lari itu, karena mereka ke belakangan lari,  kalau untuk kami satu keluarga itu, kami lari deluan karena pas itu mereka menembak sembarang di samping kiri kanan kami
Makanya di saat hari itu juga saat pengoperasian pertama itu mama pikul adik kecil di bahu trus adik kecil yang masih bayi itu  lagi mama gendung di noken, trus adik yang umur 9 tahun itu bapa de yang bawa lari pas itu itu deluan,

Sekarang ini kami masih di rimbah,
Tetangga yang lain itu tra tau dong sekarang di Mana, karena kampung halaman itu bukan lagi para penguhi tapi pos pos militer  yang mereka bangun kiri kanan.
Jangan kan itu honai kami pum di bakar, kayu kayu rumah, kayu kayu honai di ambil untuk pake masak dan menghagatkan badan di saat dinggin
Tanaman tanaman kami di ambil dan di masak untuk menahan lapar, hewan hewan kami pun demikian.

Natal desember  2018 itu tinggal kenagan, kado spesial dari kolonial yang begitu istimewa bagi yang berkulit hitam berambut keriting, yang di tindas dan mengisap hingga penderiitaan itu terus tumbuh subur di rakyat yang mempunyai bumi rimba yang kaya raya.

Anak sebenarnya sedih berlipat ganda,  karena tumpukan derita  yang dapat kami nikmati seakan hidup ini tak ada arti, seakan kami ini hewan yang lagi di piara dalam sebuah kandang  dan jika di saat waktunya tibah akan di ambil.
Berarti  hidup kami ini tidak ada arti,  bearti kami ini bukan manusia

Untuk soal makanan itu, kami susah untuk memdapatkannya, apa lagi jarank anatara kami tinggal dan kampung jauhnya minta ampun,  tapi mau bagaimana tidak mungkinkan tinggal begitu saja. Bapa kadang lompat meyebrang sungai melewati lereng gunung untuk mengabil sisa sisa petatas untuk menahan hidup di dalam rimbah,  tetapi makanan itu pun di fokuskan untuk anak dulu dan sisanya baru kami berdua sesuaikan sedikit makan yang ada

Untuk tetangga yang lain itu kurang tau dong bagaimana sekarang karena saat penyerangan kami terpisa, tapi katanya ada beberap yang tiba di lany jaya,  wamena dan beberapa kampung yang terdekat tersebut yang beberapa ribuh lainnya itu juga masih dalam hutan tapi tra mereka bagian mana,  terus ketakutan hingga meninggal,  jatuh di gunung,  di injak kayu dan lain sebagainya itu tidak terhitung.
Ada beberapa mayat juga kami  ketemu saat mencari makanan  yang sudah busuk tapi Mau bagaimana kami kan di hutan jadi kami tidak bisa buat apa apa.
Kami hanya bersedih,  menagus di balik tagisan yang lagi kita alami.

Sumbangan sumbagan dari anak anak mahasiswa untuk kami  itu juga di tagani oleh militer,
Mahasiswa yang datang membawa sumbagan demi kami pun  di batasi di periksa tidak di perbolehkan mengabil foto atau mau mendata kami yang lagi menggungsi, ditembah, stres dll pun tidak di perbolehkan, mahasiswa serta manusia yang peduli terhadap ham pu di batasi, jadi tiap makanan obat obatan yang masuk ke kampun itu harus lewat militer dulu dan orangnya di pulangkan jadi seolah olah sumbagan tersebut dari militer untuk kami

Untuk soal balik ke kampung masing masing itu juga sudah  tra bisa karena operasi itu masih berjalan dan tra mungkin juga kami balik ke tempat yang benar benar kami lihat peluruh berlarian di depan mata
Apa lagi militer masih menguasai di kampung kampung hingga hutan, jadi untuk balik ke kampung itu juga sudah tra bisa.

Jadi untuk sekarang yang isu lagi beredar tetang pengembalian militer di nduga sudah aman dan lain sebagainya itu semua tipu.
Kemarin saat anak anak mahasiswa disetiap kota study aksi tgl 18/ 012019 kemari itu, ada beberapa rombongan yang mereka pulang kan melalui STRADA dan kendaraan lainnya untuk nilang kalau militer sudah balikan semua tapi itu semua tipu.
Sa beberapa militer pulang itu beberapa kompi juga di turunkan, jadi di nduga itu masih di kuasai militer.

Jadi anak tolong suarakan lagi karena kami lagi tidak bisa di tenggah rimbah.
Bilang kepada Amerika serikat, pbb, indonesia dan para pejuang kita yang di luar ULMWP bahwa nduga saat ini tidak ada perubaha pengurangan melainkan penambahan militer untuk menghabiskan kami kami manusia papua

Igat anak jagan pernah bilang kami lagi aman,
Kecuali militer di pulangkan ke tempatnya masing masing.

#Sayangwargasipil
#save_nduga





Label:

Jumat, 14 Desember 2018

Aku Sedih


                       




Aku bukan alat yang di gunakan di saat kau membutuhkan
Aku bukan permainan yang di mainkan di saat musiman itu tiba

Aku manusia.
Aku juga punnya akal budi yang sempurna dan sehat.
Aku kaya aku bukan miskin

Aku mampu hidup sendiri, aku bukan orang yang tak punnya apa apa
Ku Hidup di gunung, ku hidup di pantai bersama hijaunya daun bersama alam yang kaya dan cerdik.

Kedatangan mu mennyedihkan ku.
Kau datang bagaikan api dan air, kau melintasi gunung gunung, hijaunya daun, dan birunya pantai.
Ku kira kau membebaskan saudara/i ku yang lagi tercengkram, yang di makan oleh kaum didikan mu.
Ku kira kau berbicara mengenai pelagaran ham yang terus terjadi. Namun itu hanyalah mimpi belaka.

Kau pergi tanpa perbuatan yang kau buat
Hannya dokumen yang bisa jadi peganggan di saat pulang.
 Licik juga kau pak. Joko.

Kau bagaikan air yang memadamkan api di saat api itu lagi panas.
Dan kau juga bagaikan api yang memanaskan di saat digin.
Kau berjalan tak sesuai arah yang benar.
Mengambil sebuah dokumen agar di pergunakan di kelak nanti
licik juga kau joko


#Cucuran_air_mata
#anak_negeri_papua
Goresan gembel
15/04/2018
Muno - bali
                                                                                              

Label:

Suara Rakyat

Oleh : yesaya gobay


Ini aku bersama alam mu
Ini aku penjaga alam mu
Ini aku perawat alam mu.

...Wahaii pahlawan ku...
Aku masih seperti dulu
masih di tempat  Yang dulu
yang pernah kau tau itu

Aku masih kuat
merahi titik puncak kebenaran
Aku masih kuat mencapai titik kebenaran.

..Wahaii pejuang ku...
Di mana kah kamu
Ke mana kah diri mu
Di sini masih ku menunggu kedatangan mu

..Wahaii kau pahlawan ku..
Wahaii kau pemberotak kebenaran ku
Wahaii kau penuntut kebenaran ku

Kapan kau datang,
ku masih menunggu mu
Surga kecil mu menangis akan diri mu

Kemarilah..kemarilah..
Wahaii pahlawan ku kemarilah
Aku beserta alam mu terus menunggu

Igin membentuk suatu persatuan
Igin membentuk suatu kekompakan
Ingin menuntut  kebenaran bersama mu

Kapan kah kau datang
Rindu akan diri mu
Di tempat yang dulu




Label:

Mahasiswa Punya Hak




Dan apakah ini semua harus di terima
Ataukah harus di abaikan
Ataukah di biarkan lewat dii kasat mata.
Biggung harus buat apa
Biggung dan aku malu
Binggung Karena aku mahasiswa
Karena aku penyambung lidah masyarakat.
Aku malu jika berdiam saja

Aku binggung..binggung.. Dan..binggung.
Haruskah tindakan yang ku ambil
ataukah duduk pangku Kaki sambil nikmati suasana.

AKu malu Karena aku mahasiswa
Aku malu Karena aku memakai jaz.
Kenapa suara ku harus di bungkam
Kenapa hak ku harus di batasi
Sedangkan Senjata ku adalah Suara ku
Dan jaz adalah symbol perlawanan ku.

Ataukah aku Salah ?..tidak, tidak, tidak.
Aku tidak salah aku mahasiswa kookkk.!
Aku wajib menyampaikan pendapatt.
Aku wajib mengkritik
Aku masiswa

Kenapa Harus Aku Di batasi
Aku hanyanya penyambung lidah
Aku hanya punya suara dan punya Jas sebagai symbol.

Adakah Demokarasi itu
Kemanakah demokrasi itu
Masih hidupkah Demokrasi itu.
Aku mahasiswa looo ??
Aku penyambung lidah
Kenapa harus di batasi.
Kenapa harus aku di larang mengkritisi
Kenapa harus aku di larang mennyampaikan pendapat
?.....


#Save Mahasiwa Yang Tertindas

Label:

Hidup Tak Berguna



hidup ku  akan kemana
hidup ku akan di mana
jika begini hidup ku

ku kira ku bebas
ku kira ku lepas
namun itu dalam hayalan pikiran

hutan hutan ku sudah tak di lindung lagi
gunug gunung di kerut habis
ke mana ku bawah hidup ini
harapan yang besar sudah tak ada lagi
harapan ku tak tau hilang kemana
ku tak berdaya lagi

aku bukan pengemis atas surga
aku bukan peminta minta atas surga
aku bukan miskin atas surga

aku kaya, alam ku melimpah
aku kaya, alam ku penuh warna
beri aku kesempatan untuk menuntut keadilan

Label:

Bangga Jadi Papua






Ku telah di bentuk dan di atur olehnya.
Sebagai ciptaan yang paling mulia. Gunung gunung yang indah,
hijaunya dedaun daun yang rimbah dan pohon pohon yang menjulang tinggi di sana ku di tempatkan.
Ras ku melanesia. Aku papua.
Aku memiliki bangsa yang besar, dan memiliki suku dan budaya yang erat di dalamnya.

Aku berbeda dengan tetangga sebelahan ku.
Beda yang sangat jauh.
beda ras, beda kulit, beda rambut, hingga beda sejarah.

namun adanya kepentingan
yang mempersamakan dan menganeksasi ku.
Aku bukan miskin namun aku di miskinkan.
Karena hadirnya aneksasi.

Aku kaya alam ku melimpah.

Banyak orang mementingkan alam ku dan tak mementingkan ku.
Banyak orang kaya dari kekayaan ku dan aku di miskinkan di tanah  ku sendiri.
seolah olah aku tak punya apa apa.

Aku sayang alam ku, aku cinta negeri ku.
Semangat ku terus ada di jalan jalan,
untuk menyuarahkan kebenaran.
    
...TETAP SEMAGAT KAMRADE...


makasih atas mengingatkannya
duka HENI LANY-saly
---------------------

Goresan gembel
15/04/2018

Label: